Karyaku Detail Karya
Sastra

RIUH TEPUK, SUNYI RIMBA

Avatar Penulis
Herda Alwanny Guru Bahasa Indoensia
Diterbitkan 20 Sep 2026
Gambar karya RIUH TEPUK, SUNYI RIMBA
Dokumentasi visual karya RIUH TEPUK, SUNYI RIMBA dalam ruang apresiasi madrasah.

Sebuah Fabel Satire tentang Mahkota dan Kepercayaan


Di sebuah hutan yang luas, hiduplah berbagai macam binatang dengan karakter, kemampuan, dan kelebihan masing-masing. Hutan itu dikenal sebagai Rimba Raya, tempat para penghuninya menggantungkan harapan pada kebersamaan, keadilan, dan kesempatan untuk menunjukkan kemampuan.


Suatu hari, kabar besar menyebar ke seluruh penjuru rimba. Singa, Macan, Harimau, dan Panter mengumumkan akan diselenggarakan sebuah perlombaan untuk mencari Binatang Terkuat Rimba, yang nantinya akan dikirim untuk mewakili hutan dalam ajang perlombaan tingkat provinsi.


Singa, yang dikenal sebagai penguasa rimba, ditunjuk menjadi ketua panitia. Dengan penuh keyakinan, ia memerintahkan Macan, Harimau, dan Panter untuk menyebarluaskan informasi perlombaan.


"Sebarkan kabar ini ke seluruh penjuru hutan! Setiap binatang berhak menunjukkan kekuatannya," titah Singa.


Macan segera menyampaikan pesan itu dari satu tempat ke tempat lain. Harimau menyebarkannya melalui kelompok-kelompok binatang, sedangkan Panter mendatangi berbagai sudut rimba yang jarang tersentuh kabar.


Dari mulut ke mulut, kabar perlombaan menyebar. Dari individu ke individu, dari kelompok ke kelompok, hingga akhirnya hampir seluruh penghuni hutan mengetahui rencana besar tersebut.


Antusiasme di Tengah Rimba


Mendengar kabar itu, para binatang menyambutnya dengan penuh semangat.


Semut yang kecil, Serigala yang tangkas, Hyena yang lincah, Badak yang perkasa, Burung Elang yang mampu terbang tinggi, Ular yang gesit, Ayam yang berani, bahkan Kutu yang tinggal di tubuh Kerbau pun tak ingin ketinggalan.


"Ini kesempatan kita!" seru Serigala.


"Aku akan berlatih lebih keras agar bisa membuktikan kemampuanku," kata Badak.


Semut pun tak mau kalah. Meskipun tubuhnya kecil, ia percaya bahwa kekuatan tidak selalu ditentukan oleh ukuran tubuh.


Para binatang mulai mempersiapkan diri sesuai dengan ketentuan yang disampaikan oleh panitia. Ada yang melatih fisik, mempersiapkan administrasi, mempelajari persyaratan, dan membentuk kelompok untuk saling mendukung.


Harapan tumbuh di seluruh penjuru hutan. Mereka membayangkan perlombaan yang adil, tempat setiap binatang memiliki kesempatan yang sama untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya.


Sosialisasi di Lapangan Rimba


Dua hari kemudian, Singa mengundang seluruh binatang untuk berkumpul di sebuah lapangan luas yang terletak di tengah hutan.


Hari itu, sekitar 270 binatang hadir. Mereka duduk berkelompok, memenuhi lapangan, dan menunggu penjelasan dari panitia.


Singa berdiri di atas sebuah batu besar. Di sampingnya, Macan, Harimau, dan Panter berdiri dengan sikap penuh kewibawaan.


"Saudara-saudaraku penghuni rimba!" seru Singa. "Perlombaan ini merupakan kesempatan bagi kita untuk menemukan binatang-binatang terbaik yang mampu membawa nama baik hutan kita."


Tepuk tangan pun bergemuruh.


Harimau kemudian menjelaskan berbagai ketentuan perlombaan, sementara Panter menyampaikan persyaratan yang harus dipenuhi. Macan menerangkan jadwal pendaftaran dan teknis pengumpulan berkas.


Di sela-sela kegiatan, Macan kembali menyampaikan pengumuman.


"Panitia menerima imbalan seikhlasnya dari setiap binatang atau kelompok binatang untuk mendukung kegiatan ini. Tidak ada paksaan. Semua berdasarkan keikhlasan."


Para binatang saling berpandangan. Sebagian memberikan makanan, buah-buahan, hasil buruan, atau benda lain yang mereka miliki.


Sosialisasi berlangsung meriah. Para peserta berapi-api ingin mengikuti perlombaan. Mereka pulang dengan keyakinan bahwa rimba akan segera menyaksikan lahirnya bintang-bintang baru.


Singa pun menutup pertemuan dengan sebuah pengumuman.


"Catat baik-baik! Pendaftaran akan dilaksanakan dua puluh hari setelah sosialisasi ini. Persiapkan diri kalian sebaik mungkin!"


Para binatang mengangguk mantap.


Dua puluh hari. Waktu yang cukup untuk berlatih dan melengkapi segala persyaratan.


Mereka pun pulang membawa harapan.


Ketika Rimba Mulai Sunyi


Hari pertama berlalu.


Hari kedua.


Hari ketiga.


Hari-hari berikutnya terus berjalan, tetapi kabar perlombaan tak kunjung terdengar.


Tak ada pengumuman baru. Tak ada informasi tentang persiapan. Tak ada kepastian yang dapat dijadikan pegangan.


Lapangan yang dahulu dipenuhi sorak-sorai kini kembali lengang. Panitia yang sebelumnya bersemangat menyampaikan kabar, perlahan menghilang dari perhatian para binatang.


"Apakah perlombaan ini masih jadi dilaksanakan?" tanya Ayam kepada Burung Elang.


"Aku tidak tahu. Sepertinya panitia belum memberikan informasi apa pun," jawab Burung Elang.


Namun, tidak semua binatang menyerah pada kesunyian itu.


Badak tetap melatih kekuatan tubuhnya. Serigala terus mengasah ketangkasan. Semut berusaha melengkapi dokumen yang dibutuhkan. Burung Elang terus melatih kemampuan terbangnya.


Mereka masih percaya pada janji perlombaan.


Sebagian lainnya mulai kehilangan semangat.


"Aku sudah berlatih berhari-hari, tetapi tidak tahu kapan pendaftarannya," keluh Hyena.


"Kalau begini terus, lebih baik aku mundur," ujar Ular.


Satu demi satu binatang mulai mengurangi persiapan. Sebagian bahkan memutuskan untuk tidak lagi mengikuti perlombaan.


Harapan yang semula menyala perlahan meredup, seperti cahaya matahari yang tertutup awan tebal.


Pengumuman yang Datang Terlambat


Ketika para binatang mulai terbiasa dengan kesunyian, tiba-tiba sebuah kabar mengejutkan terdengar.


Macan, atas perintah Singa, mengumumkan bahwa jadwal pendaftaran yang semula direncanakan dua puluh hari setelah sosialisasi telah dimajukan.


"Perhatian kepada seluruh penghuni rimba! Pendaftaran perlombaan akan dilaksanakan lusa!"


Seketika, hutan menjadi gaduh.


"Lusa? Mengapa begitu mendadak?" tanya Badak.


"Bagaimana kami bisa menyiapkan semuanya dalam waktu sesingkat itu?" protes Serigala.


Semut segera berlari ke sana kemari. Ia berusaha melengkapi dokumen yang belum selesai. Badak sibuk mengurus persyaratan administrasi. Burung Elang terbang dari satu tempat ke tempat lain untuk mencari informasi.


Ada yang berhasil menyelesaikan persyaratan. Ada yang masih berusaha. Ada pula yang akhirnya mengundurkan diri karena tidak mampu mempersiapkan segala sesuatu dalam waktu yang terbatas.


Di tengah kegaduhan itu, para binatang berharap panitia memberikan penjelasan yang lebih jelas dan waktu yang cukup.


Namun, pengumuman berikutnya justru menambah kebingungan.


Sore yang Penuh Tanda Tanya


Melalui Macan, Singa kembali menyampaikan pengumuman.


"Seluruh binatang diharapkan segera menyerahkan berkas pendaftaran. Batas akhir pendaftaran adalah sore ini!"


Para binatang semakin panik.


"Apakah sore ini pukul berapa?" tanya Kancil.


"Apakah masih ada waktu bagi kami yang belum menyelesaikan berkas?" tanya Hyena.


Pertanyaan-pertanyaan itu berseliweran di antara kerumunan. Sebagian binatang berusaha mengumpulkan berkas secepat mungkin, sementara yang lain masih mencari informasi tentang persyaratan.


Waktu terus berjalan.


Matahari mulai condong ke ufuk barat. Para binatang masih menanti pengumuman lanjutan dari panitia mengenai waktu penutupan yang pasti.


Namun, tanpa ada informasi tambahan yang jelas, pendaftaran tiba-tiba dinyatakan telah ditutup.


Sebagian binatang yang belum menyerahkan berkas hanya bisa terdiam.


"Aku belum sempat mengumpulkan persyaratan," kata Semut dengan napas terengah-engah.


"Kami bahkan belum mengetahui kapan tepatnya pendaftaran ditutup," ujar Burung Elang.


Badak menghela napas panjang.


"Bagaimana mungkin perlombaan besar dilaksanakan dengan cara seperti ini?"


Tidak ada jawaban yang mampu menenangkan kegelisahan mereka.


Sore itu, rimba kembali sunyi. Bukan karena para binatang telah kehilangan suara, melainkan karena terlalu banyak pertanyaan yang tak kunjung memperoleh jawaban.


Mahkota di Atas Panggung


Keesokan harinya, kabar mengejutkan menyebar ke seluruh penjuru hutan.


Singa dan kelompoknya dinyatakan sebagai pemenang dalam berbagai kategori perlombaan Bintang Terkuat Rimba.


Singa menjadi pemenang di kategorinya. Macan, Harimau, dan Panter juga memperoleh gelar juara dalam kategori masing-masing.


Kabar itu disambut sorak-sorai dari kelompok pemenang.


"Selamat kepada para juara!" teriak beberapa binatang yang berada di sekitar panggung.


Tepuk tangan bergemuruh. Mahkota kemenangan diangkat tinggi. Para pemenang tersenyum bangga.


Namun, di luar panggung, rimba justru dipenuhi keheningan.


Para binatang yang sebelumnya bersemangat mengikuti perlombaan saling berpandangan. Mereka mengingat sosialisasi, sumbangan, latihan, persiapan administrasi, perubahan jadwal, dan penutupan pendaftaran yang mendadak.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Ayam.


"Bagaimana proses penilaiannya?" ujar Burung Elang.


"Siapa yang menjadi juri? Apakah semua peserta memperoleh kesempatan yang sama?" tanya Badak.


Pertanyaan-pertanyaan itu tak kunjung menemukan jawaban yang memadai.


Mereka bukan semata-mata kecewa karena tidak menjadi pemenang. Mereka kecewa karena merasa kesempatan untuk berkompetisi secara adil telah hilang.


Celetukan di Tengah Keheningan


Di tengah kerumunan binatang yang sedang membicarakan hasil perlombaan, Serigala tiba-tiba tertawa kecil.


Ia memandang panggung tempat Singa, Macan, Harimau, dan Panter berdiri dengan mahkota masing-masing.


Kemudian, dengan nada bercanda yang menyimpan sindiran, ia berkata,


"Mereka panitia, mereka peserta, mereka jurinya, mereka pemenangnya. Hahaha!"


Beberapa binatang terdiam. Sebagian lainnya menundukkan kepala. Ada yang menghela napas, ada pula yang menggelengkan kepala.


Tak lama kemudian, Semut angkat bicara.


"Kalau memang semuanya sudah diatur sedemikian rupa, mengapa kami harus bersusah payah mempersiapkan diri?"


Hyena menyahut, "Mengapa kami diminta memberikan sumbangan dan mengikuti aturan, jika kesempatan yang kami dapatkan tidak jelas?"


Badak melangkah maju.


"Kekuatan tidak hanya terlihat dari tubuh yang besar atau suara yang menggelegar. Kekuatan juga terlihat dari kejujuran, keadilan, dan keberanian untuk mempertanggungjawabkan keputusan."


Suasana semakin hening.


Bahkan burung-burung yang biasanya berkicau di pepohonan seakan berhenti sejenak, mendengarkan percakapan itu.


Tepuk Tangan yang Tak Lagi Bermakna


Sejak hari itu, sesuatu berubah di dalam rimba.


Para binatang tidak lagi memandang perlombaan tersebut sebagai ajang yang mampu menyatukan mereka. Mereka mulai mempertanyakan bagaimana aturan dibuat, bagaimana peserta dipilih, dan bagaimana kemenangan ditentukan.


Ketika Singa mengumumkan kegiatan baru, para binatang tidak lagi berbondong-bondong seperti sebelumnya.


Mereka mulai bertanya:


"Di mana aturannya?"


"Siapa yang akan menjadi juri?"


"Apakah semua peserta mendapatkan kesempatan yang sama?"


Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi lahir dari pengalaman yang meninggalkan luka kepercayaan.


Singa masih memiliki suara yang lantang. Macan masih mampu menyampaikan pengumuman. Harimau dan Panter masih dapat berdiri di atas panggung.


Namun, ada sesuatu yang tak lagi mereka miliki seperti sebelumnya: kepercayaan para penghuni rimba.


Di suatu sore, ketika matahari perlahan tenggelam di balik pepohonan, Serigala duduk bersama Semut di tepi sungai.


"Rimba kita masih ramai, tetapi mengapa rasanya begitu sunyi?" tanya Semut.


Serigala menatap permukaan air yang memantulkan cahaya senja.


"Karena tepuk tangan bisa dipaksa oleh keadaan, tetapi kepercayaan tidak bisa diperintah."


Semut terdiam.


Di kejauhan, suara Singa masih terdengar. Namun, tidak banyak binatang yang menoleh lagi.


Dan sejak saat itu, setiap kali panggung kemenangan kembali didirikan, para binatang teringat pada satu hal:


Tepuk tangan mungkin memenuhi rimba, tetapi ketika keadilan tak terdengar, yang tersisa hanyalah sunyi.