Karyaku Detail Karya
Sastra

[CERMIN] Kursi Roda

Avatar Penulis
Herza Alwanny, M.Pd. Wakamad HUMAS
Diterbitkan 30 Jul 2026
Karya Tulis

Fokus pada gagasan, narasi, dan pesan karya.

Karya ini belum menyertakan gambar utama, sehingga halaman detail diarahkan untuk menonjolkan isi tulisannya secara penuh.

“Arul ... Arul ... Arul” teriak Roid dalam tidurnya.


“Bangun nak, Bangun. Ayo Shalat subuh. Kamu mimpi apa sampai berkeringat gini.” Ujar ibu menenangkan Roid yang tetiba berkeringat seperti kebakaran jenggot.


“Gak apa bu.” sambil tersenyum. Roid bergegas meninggalkan ibu yang mulai merapikan tempat tidurnya dan menyiapkan seragam sekolah. Terdengar alunan air dari balik kamar mandi dan perlahan bayangan roda mulai muncul di hadapan ibu. Roid bergegas untuk segera pergi ke sekolah bersama sahabat kecilnya. Sahabat yang sudah dianggap sebagai keluarga, sahabat yang menerima apa pun keadaan sahabatnya. Rela berjalan bersama pergi-pulang sekolah. Hujan, panas tetap menemani. 


Jarak rumah ke sekolah tidak terlalu jauh tapi cukup memakan jarak dan waktu dengan kondisi ku seperti ini. Kaki yang tidak mampu lagi menopang tubuh. Tubuh yang sudah ketergantungan dengan roda-roda. Tubuh yang sampai saat ini ketergantungan dengan kaki dan tangan sahabat. 


“Roid, Sepulang sekolah kamu pulang sendiri ya. Aku ada janji dengan Miul, dia ajak mabar. Ucap Arul sambil menatap gerbang sekolah yang sudah mulai kelihatan dari kejauhan. 


Roid tak berucap apa pun dan hanya melemparkan senyum ke arah Arul. Roid menahan kekecewaan sebab sahabatnya telah memiliki sahabat lain. Roid seperti kehilangan kaki untuk kedua kalinya. Roid merasa sahabatnya sudah mulai menjauh dan seperti kehilangan harapan. Harapan untuk terus bersama sahabatnya sehidup, semati.


Mentari telah bergulir tepat di atas kepala Roid. Ia melihat sahabatnya perlahan menghilang dari pandangannya. Dengan rasa bahagia, tertawa lepas ia meninggalkan luka dan kekecewaan di hati Roid. Tatapan kosong menghias jalan pulang dengan padatnya lalu lintas. Mobil, motor, truk pengangkut batu, pasir, hingga pengangkut minyak lalu lalang.


“Braaakkk” terdengar suara tabrakan keras di tengah jalan. Sepertinya seseorang telah tertabrak dengan kuatnya. Orang-orang mulai berkerumun mendekati korban. Terlihat aliran darah mulai menggenangi aspal. Korban terluka parah dan asumsi orang-orang kalau korban telah meninggal di tempat. Pengemudi mobil panik dan terdengar menelepon pihak puskesmas. Arul dan Miul melintas dan melihat kursi roda yang ia kenal berada dipinggir jalan. Mata Arul memerah dan berkaca-kaca. Perlahan menitikkan air mata. Ia berdiri di belakang kursi roda yang ia kenal. Tampak rasa penyesalan menyelimuti dirinya. Dirinya yang menyesal mengingkari janji pada sahabatnya untuk menemaninya setiap waktu. Ia mulai tertunduk. Nasi sudah menjadi bubur. Ia tak sanggup melihat Roid di tengah kerumunan.


“Maafkan aku Roid, maafkan aku. Jangan tinggalkan aku” Arul memeluk kursi roda yang raganya tak akan pernah ia lihat lagi.


“Arul, Arul, Arul, minggir! Aku mau naik ke kursi roda ku. Kenapa kamu peluk kursi roda sambil nangis? Botol Minumku jatuh jadi aku ikut jatuh waktu ambil botol minumnya. 


Arul tercengang, sahabatnya, keluarganya ada di depan matanya. Air mata surut. Senyum bak pelangi memekar mengusir awan kelabu yang sempat menyemai di dalam hatinya. Arul memeluk Roid dan kata maaf tak henti melintas di telinga dan hati.