Aceh Tengah — MTsN 7 Aceh Tengah melaksanakan upacara bendera pada Senin, 28 September 2026, bertempat di lapangan MTsN 7 Aceh Tengah. Upacara berlangsung dengan tertib dan diikuti oleh seluruh peserta didik, dewan guru, serta tenaga kependidikan madrasah.
Bertindak sebagai pembina upacara, Herza Alwanny, S.Pd. Dalam amanatnya, pembina upacara menyampaikan pesan tentang pentingnya kejujuran, tanggung jawab, menghormati hak orang lain, serta keberanian untuk mengatakan kebenaran.
Menariknya, amanat kali ini disampaikan melalui sebuah cerita fabel berjudul “Seribu Wortel dan Rahasia di Balik Gerobak Baru.”
Cerita tersebut berkisah tentang seekor Kelinci yang berhasil mengumpulkan 1.000 wortel dari hasil kerja kerasnya. Namun, ketika Kelinci pergi bermain bersama teman-temannya, seekor Anjing memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengambil seluruh wortel.
Anjing kemudian menukarkan wortel itu dengan berbagai barang yang menguntungkan. Sementara itu, Babi yang merupakan sahabat Anjing mengetahui perbuatan tersebut, tetapi memilih diam. Selain karena persahabatan, Babi juga memiliki dendam pribadi kepada Kelinci.
Ketika Kelinci pulang, ia mendapati 1.000 wortelnya telah hilang. Kelinci, teman-teman, dan para tetangga kemudian berusaha mencari siapa yang mengambilnya. Babi dan Anjing sempat ditanyai, tetapi keduanya tidak mengungkapkan kebenaran.
Beberapa hari kemudian, para penghuni hutan melihat Anjing membawa gerobak baru dengan berbagai makanan lezat. Gerak-gerik Anjing ternyata telah lama diamati oleh Burung Hantu. Burung Hantu kemudian menyampaikan informasi tersebut kepada Kancil.
Setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, Babi akhirnya mengakui bahwa Anjinglah yang mengambil 1.000 wortel milik Kelinci. Babi mengaku mengetahui kejadian tersebut sejak awal, tetapi memilih menutupinya.
Melalui cerita tersebut, Herza mengajak para peserta didik untuk memahami bahwa persoalan kejujuran bukan hanya berkaitan dengan mengambil sesuatu yang bukan milik sendiri.
Mengetahui suatu kesalahan lalu sengaja menutupinya juga merupakan sikap yang tidak patut diteladani.
“Teman yang baik bukanlah teman yang selalu membela kesalahan kita. Teman yang baik adalah teman yang berani mengatakan, ‘Itu salah. Jangan lakukan,’” pesan Herza dalam amanatnya.
Ia juga mengingatkan peserta didik agar tidak mudah menuduh seseorang tanpa bukti. Jika mengetahui adanya persoalan serius, siswa diharapkan menyampaikannya kepada pihak yang tepat sehingga dapat ditangani berdasarkan fakta dan aturan yang berlaku.
Dalam amanatnya, Herza turut mengaitkan cerita tersebut dengan kehidupan sehari-hari di madrasah. Menurutnya, ketidakjujuran tidak selalu berbentuk pencurian dalam jumlah besar. Ketidakjujuran dapat muncul dalam berbagai bentuk sederhana, seperti mengambil barang teman tanpa izin, mencontek, berbohong mengenai tugas, atau membantu menutupi kesalahan teman.
Pesan tersebut kemudian dikaitkan dengan nilai agama. Peserta didik diingatkan bahwa manusia mungkin dapat menyembunyikan suatu perbuatan dari orang lain, tetapi tidak ada perbuatan yang luput dari pengetahuan Allah SWT.
“Jangan menjadi baik hanya karena takut kepada aturan. Jadilah baik karena kita sadar bahwa setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan,”
pesan Herza kepada seluruh peserta upacara.
Menutup amanatnya, Herza menyampaikan sebuah pesan yang menjadi inti dari cerita tersebut:
“Jangan hanya takut ketahuan karena melanggar aturan. Takutlah kehilangan kejujuran dalam diri sendiri.”
Melalui amanat tersebut, pelaksanaan upacara Senin di MTsN 7 Aceh Tengah tidak hanya menjadi rutinitas mingguan, tetapi juga menjadi ruang refleksi dan pendidikan karakter bagi peserta didik.
Nilai kejujuran, tanggung jawab, keberanian berkata benar, serta kesadaran terhadap aturan dan ajaran agama diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan madrasah maupun di tengah masyarakat.
Upacara kemudian dilanjutkan dengan rangkaian kegiatan sebagaimana agenda madrasah dan berlangsung dalam suasana tertib.