Kemenag Aceh Tengah Gelar Pembinaan GTK Madrasah, Dorong Inovasi Digital dan Profesionalisme
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas, profesionalitas, serta integritas para pendidik di lingkungan madrasah.
Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kemenag Aceh Tengah dalam laporannya menyampaikan bahwa agenda pembinaan hari ini dihadiri oleh 150 peserta. Mereka terdiri dari unsur tenaga kependidikan dan pendidik dari berbagai jenjang madrasah di seluruh Kabupaten Aceh Tengah. Ia juga menambahkan, kegiatan ini terselenggara berkat kolaborasi erat dengan forum internal madrasah, BICER, yang selama ini menjadi jembatan strategis bagi para guru untuk menelurkan berbagai inovasi pembelajaran.
Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Tengah, Wahdi, MS, MA, secara resmi membuka acara tersebut. Dalam sambutannya, Wahdi menekankan pentingnya esensi tema yang diusung dalam pilar pendidikan modern.
"Kegiatan hari ini, yang mengusung tema 'GTK Berdedikasi, Digitalisasi, Cerdas, dan Berintelektual dalam Meraih Prestasi Masa Depan yang Gemilang', merupakan refleksi dari komitmen kita bersama. Di era transisi teknologi ini, dedikasi yang kuat harus berkelindan dengan kecakapan digital dan ketajaman intelektual. Inilah kunci utama kita untuk mengantarkan generasi muda Aceh Tengah menuju gerbang prestasi yang gemilang," ujar Wahdi.
Acara inti pembinaan menghadirkan narasumber pusat, yaitu Kasubdit GTK MA/MAK Ditjen Pendis Kementerian Agama RI, Dr. H. Imam Bukhori, M.Pd. Dalam paparannya, Dr. Imam Bukhori menjabarkan secara mendalam mengenai lima poin metode mengajar dalam pandangan Islam yang diadopsi dari keteladanan Rasulullah SAW sebagai pendidik utama.
5 Poin Cara Mengajar dalam Pandangan Islam
- Mengajar dengan Kasih Sayang (Rahmatan lil 'Alamin): Menempatkan siswa sebagai amanah. Proses transfer ilmu harus didasari oleh rasa peduli dan kelembutan, bukan dengan kekerasan atau paksaan, sehingga suasana belajar menjadi menenteramkan.
- Keteladanan yang Nyata (Uswatun Hasanah): Guru adalah cerminan bagi muridnya. Sebelum mengajarkan sebuah nilai atau akhlak, seorang pendidik harus terlebih dahulu mempraktikkan nilai tersebut dalam perilaku sehari-hari.
- Metode Bertahap dan Sesuai Kemampuan (Tadrij & Khathibunnas 'Ala Qadri Uqulihim): Menyampaikan materi pembelajaran secara sistematis (dari yang mudah ke yang sulit) serta menyesuaikan bahasa dan metode pengajaran dengan tingkat intelektual dan psikologis siswa.
Dialog dan Diskusi Interaktif
- (Mujadalah billati hiya Ahsan): Menghindari metode satu arah yang kaku. Guru membuka ruang diskusi yang sehat untuk merangsang daya kritis siswa dengan cara yang santun dan saling menghargai.
- Pemberian Motivasi dan Solusi (Taysir wa Tabsyir): Mempermudah proses belajar dan memberikan kabar gembira (motivasi). Guru sejatinya hadir memberikan solusi atas kesulitan belajar siswa, bukan justru membuat ilmu pengetahuan terasa rumit dan menakutkan.
Lebih lanjut, Dr. Imam Bukhori juga mengupas tuntas tentang pentingnya membangun interaksi yang harmonis antara guru dan siswa. Interaksi yang positif dan terbuka di dalam kelas dinilai menjadi jembatan utama yang memudahkan proses transfer keilmuan (transfer of knowledge) serta internalisasi nilai-nilai karakter antara keduanya.
Di akhir sesi, beliau menyentuh sisi spiritualitas pendidik dengan mengingatkan kembali hakikat rasa syukur dan keikhlasan dalam profesi guru.
"Menjadi seorang guru adalah sebuah jalan hidup yang penuh kemuliaan. Mengajarkan ilmu adalah bentuk syukur terbaik kita atas anugerah kecerdasan yang Allah titipkan. Ketika kita menjalankan tugas ini dengan penuh keikhlasan, mengajar bukan lagi sekadar profesi untuk mencari nafkah, melainkan sebuah ladang jihad dan investasi amal jariyah yang pahalanya akan terus mengalir tanpa putus, bahkan hingga kita telah tiada," pungas Dr. Imam Bukhori menutup materinya.
Akhir sesi, peserta pembinaan guru dan tenaga pendidikan melakukan sesi tanya jawab yang terkait dengan penjelasan materi yang telah disampaikan.